Majalah Queer Indonesia Tahun 1980-an, 1990-an, dan 2000-an Menelusuri koleksi arsip Queer Indonesia Archive

Berbagai media cetak (majalah atau tabloid) dalam tiras yang relatif kecil dan diterbitkan secara independen, merupakan suatu ruang ekspresi yang cukup menonjol di kalangan komunitas gay dan lesbian Indonesia sebelum era internet. Majalah queer di Tanah Air muncul pertama kali tahun 1982 dan perlahan-lahan meredup di pertengahan 2000-an seiring dengan berkembangnya interaksi melalui dunia maya. Selama sekitar dua dekade, majalah-majalah itulah yang menghubungkan beragam komunitas queer di penjuru Nusantara. Kehadiran mereka membuka wawasan dan peluang pada harapan terhadap masa depan kelompok queer di Indonesia.

Kami berharap pameran ini dapat memberi peluang bagi kita untuk melihat secara langsung peran penting majalah-majalah queer Indonesia dalam membentuk dan membangun komunitas dan gerakan LGBTQ+ di Indonesia serta sejauh mana mereka telah menjadi bagian dari jejaring yang menghubungkan beragam komunitas di Indonesia dengan gerakan pembebasan yang pula tengah melanda dunia.

G: Gaya Hidup Ceria

Agustus 1982 sampai November 1984

Dikelola & diterbitkan oleh Lambda Indonesia

18 edisi

Pada akhirnya, babak baru terhadap perihal “pembebasan” (hak LGBT), terbuka dengan kehadiran G: Gaya Hidup Cerita yang dikelola dan diterbitkan oleh Lambda Indonesia pada Agustus 1982 di Surakarta (Solo), Jawa Tengah. Majalah tersebut menjadi yang pertama ada di Indonesia dan dibuat dengan harapan untuk membangun gerakan pembebasan terhadap kelompok gay dan lesbian Indonesia.

(Saat itu, perjuangan queer di Indonesia, melekat pada identitas "gay" dan "lesbian" sebagai istilah umum yang diperkenalkan untuk kelompok queer. Kami mempertahankan penyebutannya untuk menghubungkannya pada konteks gerakan queer di Indonesia.)

Meski hanya berjalan sebanyak delapan edisi, G: Gaya Hidup Ceria telah memenuhi dahaga kelompok queer Indonesia untuk bisa saling terhubung (berinteraksi satu sama lain) dan kemudian menginspirasi terbitnya publikasi-publikasi serupa dalam dua dekade ke depan. Majalah itu menjadi langkah awal dalam membangun gerakan gay dan lesbian secara nasional serta menyediakan ruang semi-publik untuk interaksi dan komunikasi yang sebelumnya tak ada. Melalui lembar demi lembar majalah, berbagai individu gay dan lesbian dapat saling terhubung satu sama lain, baik itu dalam hal interaksi personal maupun informasi tentang gerakan LGBT di seluruh dunia.

Delapan sampul majalah G: Gaya HIdup Ceria

Sejak edisi perdananya, G: Gaya Hidup Ceria telah memberikan penekanan terhadap persoalan menuju pembebasan kelompok gay dan lesbian, terutama pertentangan pada anggapan gay dan lesbian sebagai hal yang “kebarat-baratan.” Nilai maupun norma heteronormatif yang menjadi arus utama dan terlembagakan, lantas dihadapkan pada “identitas” dan gaya hidup kalangan gay dan lesbian yang tumbuh di perkotaan. Tulisan-tulisan pada majalah itu membawa suatu diskusi dan semacam “cahaya” untuk melihatnya dengan lebih jelas. Tentu saja, perbincangan tentang itu masih terus berlanjut dan belum tuntas. Tetapi, setidaknya G: Gaya Hidup Cerita telah memberikan pijakan bagi persoalan yang masih relevan untuk dibahas dalam 50 tahun ke depan sekali pun.

Kutipan dari Dede Oetomo pada artikel berjudul “Charting Gay Politics in Indonesia” (Memetakan Politik Kelompok Gay di Indonesia), 3 April 1982
Siaran pers dalam bahasa Inggris terkait pendirian Lambda Indonesia dan majalah yang dikelola dan diterbitkannya, 5 April 1982
Siaran pers dalam bahasa Inggris terkait pendirian Lambda Indonesia dan majalah yang dikelola dan diterbitkannya, 5 April 1982
“Menghapus Arang yang Tercoreng di Kening” editorial pada edisi 1, Agustus 1982
Ringkasan dalam bahasa Inggris dimuat dalam majalah sebagai upaya membangun pembaca internasional

Majalah tersebut berhenti beredar pada penghujung tahun 1984 seiring dengan tidak berfungsinya kepemimpinan pusat Lambda Indonesia. Meski begitu, banyak anggota Lambda Indonesia kemudian bergabung ke dalam Kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara (KKLGN). KKLGN merupakan sebuah jaringan pada level nasional yang berisi para aktivis dan pendiri/pengelola majalah yang paling populer pada koleksi arsip kami, yaitu GAYa NUSANTARA.

Jaka

Februari 1985 - Mei 1988

Dikelola dan diterbitkan oleh Persaudaraan ‘G’ Yogyakarta (PGY) dan Indonesian Gay Society (IGS)

18 edisi

Terbit sebanyak lebih dari 18 edisi, Jaka menghadirkan ruang kreatif dan cerdas dalam mengeksplorasi berbagai persoalan laki-laki gay pada pertengahan hingga akhir tahun 1980-an.

Majalah Jaka memiliki konten yang mencakup artikel atau esai, puisi, cerpen, komik, dan ilustrasi dengan tema beragam yang berkisar pada cinta, keterhubungan, seks, keluarga, dan bagaimana hidup sepenuhnya sebagai lelaki gay.

Pesan dari redaksi majalah Jaka terhadap HIV pada Maret 1987

Jaka juga menyajikan hal yang sangat baru dari komunitas gay terkait dengan perkembangan pandemi virus HIV kala itu. Berbagai artikelnya mengulas tentang infomasi medis sekaligus merespon sorotan media yang tak berpihak terkait dengan persoalan homoseksualitas dan HIV.

Formulir berlangganan pada edisi pertama majalah Jaka

Dengan harga Rp275 per edisinya, Jaka memiliki tiras hanya sebanyak 30 eksemplar. Sebagian besar majalah didistribusikan di Kota Yogyakarta.

Sampul dari 18 edisi majalah Jaka

Komik

Seri komik berjudul “Sang Jaka Menggiring Angin” karya Tito, mengeksplorasi pertanyaan tentang siapa atau apa itu artinya menjadi seorang gay. Komik tersebut mengulas kisah keseharian tokoh utama bernama Jaka dalam menyelami kehidupan cinta, seks, dan identitasnya (sebagai gay).

Dari majalah Jaka edisi 4, Agustus 1985

Komik muncul pertama kali pada Edisi 4, Agustus 1985. Kisah diawali dengan Jaka sebagai tokoh utama yang mengakui seksualitasnya pada teman lelakinya. Dengan mengikuti nasihat temannya tersebut, dia kemudian menemui seorang psikolog yang menegaskan bahwa homoseksualitas bukanlah penyakit atau penyimpangan. Seri pertama komik itu pun diakhiri dengan Jaka dan temannya yang menemukan “kesenangan” satu sama lain. Komik “Sang Jaka Menggiring Angin” muncul pada 6 edisi majalah dan ilustrasi sosok Jaka pun sering muncul sebagai sampul majalah.

Sayangnya, seiring dengan meningkatnya permintaan terhadap majalah tersebut, tekanan pun semakin meningkat. Hal itu ditambah pula dengan banyaknya anggota grup yang telah lulus (kuliah) dan meninggalkan Kota Yogyakarta, sehingga organisasi tidak bertahan lama. Indonesian Gay Society berhenti menerbitkan Jaka setelah edisi pada Mei 1988.

GAYa NUSANTARA

November 1987 sampai Desember 2005

Dikelola & diterbitkan oleh Kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara (KKLGN). Sejak 1993, majalah diterbitkan oleh GAYa NUSANTARA (GN)

134 Edisi

GAYa NUSANTARA adalah majalah yang paling berusia panjang dan terkenal pada periode tersebut. Majalah GAYa NUSANTARA terus hadir hingga 134 edisi ke depan dalam kurun waktu lebih dari dua dekade.

Berbagai sampul majalah GAYa NUSANTARA selama 134 edisi.

Meski terdapat banyak perubahan pada format dan konten selama dua dekade yang penuh gejolak, ada dua kolom yang tetap populer secara konsisten:

Perkawanan

Selayaknya Grindr dalam format media cetak, “Perkawanan” adalah semacam korespondensi (lewat surat) di antara para sahabat pena dari berbagai daerah. Kolom itu menjadi ruang bagi pembaca majalah untuk saling berkenalan, baik itu di Indonesia maupun luar negeri.

Surat-surat dengan rincian informasi atau karakter tertentu, diikuti dengan permintaan untuk suatu “koneksi” dengan siapa pun yang berada (tinggal atau bekerja) di area tertentu. Kolom itu semakin populer dan banyak diminati, sehingga memiliki porsi yang terus bertambah mengikuti permintaan yang kian banyak untuk relasi pertemanan, cinta, dan seks.

Contoh halaman pada kolom “Perkawanan” (GAYa NUSANTARA pada edisi 50). Nama lengkap, foto wajah, dan alamat sengaja kami sensor

Pada puncaknya, GAYa NUSANTARA pernah mencapai tiras hingga 800 eksemplar per edisinya. Majalah tersebut didistribusikan melalui berbagai salon, toko, klinik kesehatan, serta organisasi gay, lesbian, dan waria.

Di Mana Ngeber (Tempat Berkumpul) // Direktori

Komunitas memiliki kebutuhan informasi mengenai di mana saja kawan-kawan queer berkumpul kala itu. GAYa NUSANTARA pun berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan itu. Pada mulanya, berbagai tempat atau titik berkumpul tersebut seringkali berubah karena perubahan pemanfaatan beragam ruang publik, seperti taman, pasar, atau pantai, serta perubahan terhadap kawasan komersial yang pula begitu cepat seiring dengan perkembangan ekonomi. Redaksi GAYa NUSANTARA bekerja tanpa henti untuk terus memperbaharui daftar lokasi ngeber lewat majalah.

Pada akhirnya, kolom itu pun berubah menjadi semacam direktori terkait berbagai jaringan organisasi, aktivis, salon, klinik, dan ruang aman lainnya bagi queer yang terus bermunculan di berbagai daerah, termasuk di dalamnya itu adalah daftar titik atau tempat untuk berkencan dan kumpul-kumpul).

Direktori pada GAYa NUSANTARA, Edisi 41, November 1995

Dinamika pada zaman itu ditunjukkan dengan berbagai pembaharuan kosakata atau bendahara kata pada kamus bahasa binan atau bahasa cong yang sangat dinamis. Bahasa binan sendiri telah berkembang sebagai bahasa pergaulan di kalangan gay dan waria di Indonesia.

Kamus bahasa binan yang pertama kali ditampilkan pada majalah GAYa NUSANTARA, Edisi 9, Maret 1989
Kamus bahasa binan yang pertama kali ditampilkan pada majalah GAYa NUSANTARA, Edisi 9, Maret 1989

Bahasa binan terus berubah seiring dengan perkembangan tren dan setiap kota memiliki karakter khasnya masing-masing. Sehingga, anggota komunitas pun membutuhkan semacam kamus untuk bisa mengikuti perubahan tersebut. Kolom tentang bahasa binan pada majalah GAYa NUSANTARA juga terus diperbaharui dengan penambahan berbagai istilah atau kata baru. Para pembaca juga dapat berkontribusi dengan memberikan informasi tentang adanya pelafalan atau beragam kata/istilah baru yang muncul dan populer di tempat mereka.

GAYa NUSANTARA telah dijual dan disirkulasikan di berbagai kota di Indonesia

Pada puncaknya, GAYa NUSANTARA pernah mencapai tiras hingga 800 eksemplar per edisinya. Majalah tersebut didistribusikan melalui berbagai salon, toko, klinik kesehatan, serta organisasi gay, lesbian, dan waria.

Buku Seri IPOOS Gaya Betawi

Juni 1992 sampai Juli 1998

Dikelola dan diterbitkan oleh Ikatan Persaudaraan Orang-Orang Sehati (IPOOS)/GAYa Betawi

21 Edisi

Terbit sebanyak 21 edisi sepanjang tahun ‘90-an, Buku Seri IPOOS merupakan majalah yang menyajikan percampuran budaya pop, informasi kesehatan seksual, dan beragam kegiatan yang diselenggarakan oleh IPOOS Entertainment, seperti arisan, kontes kecantikan, dan operet komedi.

Sampul majalah Buku Seri IPOOS Gaya Betawi

Buku Seri IPOOS memfokuskan pembaca mereka pada kebutuhan anggota IPOOS yang cukup besar di Jakarta dan sekitarnya. Seringkali, majalah menampilkan profil anggota mereka, bahkan ucapan selamat ulang tahun pada anggota mereka pun kerap ditampilkan.

Para seniman Jakarta seringkali diperkenalkan lewat beberapa halaman pada isi majalah. Hal itu menegaskan betapa IPOOS telah berkembang dan begitu berpengaruh pada dunia hiburan di kalangan komunitas kala itu, termasuk yang paling terkenal adalah kontes kecantikan dan pertunjukan operet komedi di sejumlah diskotik (klab malam).

Kelompok seniman Jakarta dengan nama panggung Trio B.A.M. pada sampul majalah IPOOS edisi V, April 1993

Pada pertengahan tahun 1998, bertepatan dengan terjadinya krisis moneter di Indonesia, tim redaksi majalah pun tak luput dari dampak. Kondisi itu diperburuk dengan meninggalnya sosok penting di balik penerbitan majalah, yaitu Robin Wijaya, yang kemudian dijadikan sampul pada edisi terakhir bulan Juli 1998.

GAYA LESTARI

1993-1994 (perkiraan)

Dikelola & diterbitkan oleh Chandra Kirana

(Jumlah edisi tidak diketahui)

Kala itu, Gaya Lestari hadir sebagai majalah lesbian yang dibuat oleh jaringan lesbian nasional yang baru terbentuk pada Januari 1993 dengan nama Chandra Kirana. Majalah itu diterbitkan untuk menghubungkan sesama lesbian di Indonesia dan gerakan aktivis lesbian pada skala global. 

Sampul dari empat majalah Gaya Lestari yang menjadi koleksi QIA

Majalah Gaya Lestari berisi kumpulan surat, kisah, dan puisi tentang pengalaman lesbian Indonesia. Majalah juga mengulas perkembangan organisasi di dalam gerakan gay dan lesbian di Indonesia, termasuk Kongres Lesbian dan Gay Indonesia (KLGI) yang pertama pada Desember 1993.

Bersama dengan buletin (newsletter) Chandra Kirana, Gaya Lestari juga mengabarkan informasi seputar perkembangan terkait dengan gerakan perempuan dan lesbian di dunia. Majalah tersebut menghubungkan perempuan Indonesia dengan gerakan lesbian di Asia yang tengah berkembang saat itu.

Sayangnya, kami tidak memiliki koleksi edisi Gaya Lestari secara lengkap. Saat ini, kami hanya mempunyai empat edisi yang pendistribusiannya saat itu menjadi sisipan majalah GAYa NUSANTARA. Lewat pameran ini, kami pun berharap jika terdapat kawan yang memiliki koleksi majalah Gaya Lestari, bersedia menghubungi kami dan mau mengkontribusikan koleksinya untuk kami digitalisasi ke dalam koleksi arsip kami.

Paraikatte / Media KIE GAYa Celebes

1994 - 1999

Dikelola dan diterbitkan oleh Yayasan GAYa Celebes

15 Edisi

Yayasan GAYa Celebes merupakan satu-satunya yang menerbitkan majalah queer di luar Pulau Jawa. Dimulai dengan kemunculan PARAIKATTE (diambil dari bahasa Makassar yang berarti “bersama kami”) yang bertujuan untuk memperkuat kelompok queer di Kota Makassar serta menjadi media informasi untuk acara-acara yang diselenggarakan oleh GAYa Celebes maupun berbagai perayaan atau pesta dari anggotanya.

Sampul majalah GAYa Celebes dari 15 edisi majalah yang dimiliki QIA

Majalah GAYa Celebes menyediakan informasi seputar kesehatan seksual secara detail sebagai bagian dari aktivitas atau kampanye tentang kesehatan seksual yang dikembangkan oleh GAYa Celebes. Hal itu mencakup tes HIV dan infeksi menular seksual (IMS), informasi tentang HIV dan IMS, serta infografis tentang penggunaan kondom.

Panduan yang dibuat secara khusus untuk komunitas mengenai virus HIV pada edisi kesembilan tahun 1998

Kontes kecantikan dan penampilan dari seniman kelompok waria seringkali diulas di dalam majalah. Bahkan, tak jarang mereka yang memenangkan kontes tersebut, terpilih untuk tampil di sampul depan. Itu menegaskan betapa aktif dan terorganisirnya komunitas waria di Makassar.

Jaka Jaka dan New Jaka-Jaka

1992-1994 dan 1997-1999

Dikelola dan diterbitkan oleh Indonesian Gay Society (IGS)

6 edisi dan 7 edisi

Setelah lama mati suri, majalah Jaka kembali dengan format baru bernama Jaka Jaka. Begitu pula dengan IGS yang sempat vakum, namun dengan telah berdirinya cabang KKLGN di Yogyakarta dan kembalinya sejumlah anggota IGS, maka organisasi tersebut kembali terbangun dan melanjutkan penerbitan majalah.

Sampul majalah Jaka Jaka

Majalah Jaka Jaka kembali hadir dengan pesan yang menegaskan terjadinya perubahan besar terhadap perkembangan komunitas sejak epidemi HIV melanda kalangan gay di Indonesia. Pada edisi pertamanya, setelah rehat pada akhir tahun ‘80-an, Jaka Jaka menyinggung persoalan HIV yang dihadapi komunitas kala itu sebagai bom waktu.

Meski punya semangat baru, setelah menerbitkan enam edisi, lagi-lagi majalah Jaka Jaka kembali tidur. Majalah tersebut muncul kembali setelah tiga tahun hilang dari peredaran dengan format maupun nama baru: New Jaka-Jaka.

Edisi 1, 2, 3, 4, dan 6 serta edisi khusus Reformasi dari New Jaka-Jaka

Pada Mei 1997, New Jaka-Jaka hadir dengan menampilkan lagi beragam esai, kisah lucu, wawancara, dan rubrik seni-budaya yang fokus pada kehidupan gay di Kota Yogyakarta. Salah satu rubrik penting pada majalah itu, adalah “Masalah Anda, Masalah Kita” yang berisi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dikirimkan pembaca.

Pada edisi berikut, terdapat pembahasan yang berawal dari lontaran masalah yang diajukan oleh pembaca bernama Randy. Ia mengakui kalau dirinya terlalu feminin dan tengah berjuang dengan kesepian. Dia mempertanyakan mengapa perempuan begitu mendominasi kehidupan sosialnya dan meminta nasihat tentang bagaimana mendekati seseorang yang dia taksir di sekolahnya, tapi justru menghindarinya.

Merespon hal itu, Mas Andre membalasnya dengan mengatakan bahwa kita tidak tahu dari mana asal feminitas, namun itu adalah sesuatu yang dapat diterima dengan baik. Dia meminta pembaca agar tak usah memusingkan soal itu dan apa yang dikatakan orang dengan “normal.” Mas Andre kemudian mencontohkan tentang orang kidal yang seringkali dianggap tak normal oleh orang-orang yang menulis dengan tangan kanan.

Sebagai Kota Pelajar, Yogyakarta menjadi salah satu pusat gerakan mahasiswa yang berperan penting dalam proses Reformasi. Pada beberapa edisi terakhirnya, majalah New Jaka-Jaka mengajak pembaca untuk bergabung ke dalam gerakan Reformasi terkait dengan kebutuhan terhadap demokrasi dan pentingnya menyoroti partai politik yang mendukung hak kaum homoseksual dan transgender.

Namun, krisis moneter yang berdampak pada melonjaknya biaya percetakan dan ketidakstabilan kondisi di masa transisi kala itu, New Jaka-Jaka menyatakan diri tak lagi mampu melanjutkan penerbitan majalahnya setelah berjalan sebanyak enam edisi.

MitraS

1997-1998

Dikelola dan diterbitkan oleh LaMitraS (Mitra Sehati)

3 Edisi

MitraS adalah majalah lesbian yang dibuat pada akhir tahun ‘90-an. Meski berumur pendek, tetapi majalah itu setidaknya telah mampu merespon tanggapan atas minimnya publikasi lesbian kala itu. Kehadiran MitraS akhirnya memecah kesunyian kelompok lesbian di Indonesia. Majalah MitraS pun banyak mengangkat topik tentang rasa kesepian dan keterkungkungan yang dihadapi oleh kelompok lesbian sebagai akibat dari beban ganda seksisme yang dihadapi perempuan secara umum dan homofobia yang dihadapi secara khusus oleh kaum lesbian.

Tiga edisi sampul majalah MitraS

MitraS berisi konten lokal dan terjemahan dari artikel maupun kisah lesbian di luar negeri. Majalah itu juga memuat rubrik yang menjadi ruang bagi para lesbian untuk bisa saling berkenalan dan berkencan lewat korespondensi surat melalui profil diri yang ditampilkan pada halaman majalah.

Terlepas dari antusiasme tim redaksi, MitraS menghadapi tantangan terkait dengan situasi krisis moneter dan kurangnya respon pembaca. Pada editorial edisi terakhirnya, redaksi majalah itu bahkan meminta permohonan agar pembaca bersedia memberikan tanggapan atau berkirim surat kepada redaksi agar memotivasi penerbitan majalah itu. Namun, MitraS tak lagi terbit setelahnya.

Internet dan berakhirnya era media cetak

Memasuki tahun 2000-an, internet telah mulai mewabah di Indonesia. Kemudahan terhadap akses memasuki dunia maya dan popularitasnya yang kian meluas, memunculkan ruang-ruang baru bagi komunitas gay, lesbian, dan transgender di Tanah Air.

Edisi perdana Lembar Swara

Berbagai kelompok, salah satunya Swara Srikandi, berinisiatif membuat website secara meluas dan menjadikannya sebagai media baru selayaknya majalah dalam format digital. Hal itu menawarkan ruang interaksi baru bagi kelompok lesbian untuk pertama kalinya.

Kesuksesan kanal digital tersebut kemudian menandai babak baru yang menggantikan tren majalah. Begitu pula dengan GAYa NUSANTARA yang akhirnya tak melanjutkan terbitannya setelah edisi Agustus 2005. Selanjutnya, majalah-majalah dalam format digital, kian mewarnai komunitas queer di Indonesia hingga tahun 2014.

Kebangkitan internet memberikan peluang yang lain dari sebelumnya untuk mengkreasikan lebih banyak konten. Terdapat berbagai blog, yahoo group, dan forum lain di dunia maya yang berkembang pesat sepanjang tahun 2000-an. Hal itu pun seolah menjadi manifestasi dari visi yang pernah diutarakan oleh G: Gaya Hidup Ceria dalam membangun koneksi di antara komunitas queer, sehingga kita dapat bekerja sama untuk membangun masa depan.

Queer Indonesia Archive berterima kasih kepada kamu yang telah ikut bersama kami melakukan perjalanan melintasi berbagai masa melalui koleksi arsip kami. Jika kamu ingin menelusuri lebih detail terkait hal-hal spesifik yang kami singgung dalam pameran ini, silahkan untuk mengunjungi website kami.

Pameran ini dapat terselenggara berkat kontribusi dari Dede Oetomo, Gayatri, Marcel L., Florens, Mak Chun, Pak Andreas, dan berbagai pihak yang telah terlibat dan mendukung kehadiran beragam publikasi gay dan lesbian selama empat dekade terakhir.

Terima kasih secara khusus kepada Tom Boellstorff yang telah melakukan digitalisasi terhadap sebagian besar materi pada pameran ini ketika ia berada di Indonesia. Pameran ini dapat terselenggara berkat kontribusinya. QIA saat ini masih terus mencari dan melakukan digitalisasi terhadap berbagai edisi dari majalah-majalah queer di Indonesia. Silahkan untuk menghubungi kami jika kamu memilikinya dan bersedia untuk kami arsipkan secara digital.

Queer Indonesia Archive adalah sebuah proyek arsip digital yang bertujuan mengoleksi, menjaga, dan menyebarkan material yang menggambarkan kehidupan dan pengalaman queer di Indonesia.

Proyek ini dijalankan oleh sukarelawan, berfokus pada komunitas, dan bersifat non-profit

Jika kamu memiliki pertanyaan tentang konten dari pameran ini atau kamu memiliki arsip (majalah) yang ingin dikontribusikan untuk menjadi koleksi arsip QIA, silahkan menghubungi kami lewat surel di alamat info@qiarchive.org.

Pameran ini merupakan bagian dari rangkaian acara Southeast Asia Cultural Festival (SEAQCF) 2021. Silahkan kunjungi website SEAQCF untuk menyaksikan program-program lainnya, termasuk dua pameran digital kami.

Pameran ini didukung oleh ASEAN SOGIE Caucus dan VOICE Global
Karya ini dilisensikan di bawah Creative Commons License BY-SA 4.0. Sumber dari materi yang ditampilkan, tetap menjadi hak cipta dari pemegang hak cipta aslinya dan disajikan pada situs ini bukan untuk tujuan profit, melainkan penelitian dan pendidikan. Kami menganggapnya sebagai “penggunaan yang wajar.” Jika kamu ingin materi (milik) kamu dihapus dari pameran ini, silahkan menghubungi QIA. Jika kamu ingin menggunakan materi berhak cipta dari pameran ini untuk tujuan kamu sendiri yang melampaui penggunaan yang wajar, maka kamu harus mendapatkan izin dari pemilik hak cipta.